Beda Antara Orang Optimis vs Pesimis
Posted on April 16, 2013 by Papa Addin
Pray
Salah satu syarat untuk menjadi sukses adalah memiliki jiwa optimis. Orang optimis selalu berpikiran positif dan mampu berkomunikasi baik dengan musuh utamanya yakni suaranya sendiri. Suara Anda atau Self Talk akan selalu menemani dimanapun Anda berada. Dia adalah orang pertama yang akan memberikan analisa terhadap semua kejadian yang Anda alami. Oleh karena itu, Anda harus bisa mengendalikannya agar Anda bisa sukses mencapai setiap tujuan.
Dr. Martin Seligman telah memperkenalkan Selft Talk sebagai Explanatory Styles dalam bukunya yang berjudul Learned Optimism. Self Talk atau Explanatory Styles ini ternyata bisa membedakan apakah Anda termasuk orang yang optimis atau orang yang pesimis.
Ada 3 (tiga) dimensi Self Talk menurut Dr. Martin yang bisa digunakan untuk membedakan orang optimis dan pesimis yaitu: Permanence, Pervasiveness dan Personalization. Ke-3 dimensi tersebut memberikan nilai total untuk menyimpulkan apakah Anda orang yang optimis atau orang yang pesimis.
Mari sama-sama kita pelajari.
1. Dimensi pertama yang membedakan orang optimis dan orang pesimis ada pada pandangannya terhadap Permanen tidaknya penyebab suatu kejadian baik atau kejadian buruk yang dialaminya: Permanence
Bila dihadapkan pada kejadian baik, orang optimis berkeyakinan bahwa kejadian itu terjadi karena sebab permanen. Orang pesimis justru berkeyakinan bahwa penyebab kejadian baik itu adalah keberuntungan semata.
Misalkan, orang tersebut berhasil mencapai penjualan melebihi target hariannya.
Orang Optimis akan berkata: “Saya selalu beruntung.”
Orang Pesimis akan berkata: “Saya lagi beruntung hari ini.”
Pemikiran mereka akan menjadi terbalik saat dihadapkan pada kejadian buruk. Orang optimis percaya bahwa kejadian buruk adalah sementara, tapi orang pesimis malah berpikiran bahwa kejadian buruk adalah permanen.
Misalkan, orang tersebut mengalami kejadian buruk tidak bisa bertemu atasan untuk berdiskusi hal penting perihal target penjualannya.
Orang Optimis akan berkata: “Bos sedang tidak mood hari ini.”
Orang Pesimis akan berkata: “Bos tidak mau berbicara dengan kita.”
2. Dimensi kedua yang membedakan antara orang optimis dan pesimis ada pada seberapa jauh mereka memandang suatu kejadian itu akan berakibat luas pada dirinya: Pervasiness.
Orang optimis bila dihadapkan pada kejadian baik akan berkata bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh hal umum dan universal. Namun, orang pesimis malah beranggapan bahwa kejadian itu disebabkan oleh hal spesifik.
Misalkan, orang tersebut tiba-tiba menerima hadiah dari orang yang belum dikenal.
Orang Optimis akan berkata: “Ini terjadi karena saya orang yang menarik.”
Orang Pesimis akan berkata: ”Ini terjadi karena saya menarik baginya.”
Sebaliknya bila dihadapkan pada kejadian buruk, orang optimis yakin kejadian buruk hanya akan berlaku spesifik tidak memberikan dampak luas terhadap kinerja selanjutnya. Namun, orang pesimis malah percaya bahwa kejadian itu akan berdampak luas pada kehidupannya.
Misalkan, orang tersebut gagal melakukan presentasi penjualan dan membuat malu atasan.
Orang Optimis akan berkata: “Aku memalukan hanya baginya, tidak untuk orang lain”
Orang Pesimis akan berkata: ”Aku memang memalukan”
3. Dimensi ketiga yang membedakan antara orang optimis dan pesimis ada pada penjelasan penyebab kejadian itu karena dirinya atau karena sebab di luar dirinya: Personalize
Orang optimis bila mengalami kejadian baik akan memberikan apresiasi terhadap dirinya bahwa itu semua terjadi karena dia memiliki kemampuan dan keahlian.
Misalkan, orang tersebut sukses mengapai target penjualan team yang dipimpinnya.
Orang optimis akan berkata: “Semua terjadi karena saya memiliki ketrampilan”
Orang Pesimis akan berkata: “Semua terjadi karena kerja kelompok yang baik”
Sebaliknya ketika hal buruk terjadi, orang optimis tidak akan menyalahkan dirinya, tetapi lebih memilih untuk mengakui ada faktor eksternal yang belum dikuasainya.
Misalkan, orang tersebut mengalami kegagalan dalam penjualan saham.
Orang Optimis akan berkata: “Saya belum memiliki pengetahuan di Saham”
Orang Pesimis akan berkata: “Saya bodoh”
Semoga bisa dimengerti. Namun, biar lebih mudah dipahami, kesimpulan dari uraian diatas adalah sebagai berikut:
Kejadian Baik
Kejadian Buruk
Orang Optimis
Akan terus berlanjut,
Memberi pengaruh pada langkah selanjutnya,
Selalu mengapresiasi diri sendiri
Sementara saja,
Tidak akan mempengaruhi kejadian selanjutnya,
Bisa diselesaikan oleh usaha dan kemampuan diri
Orang Pesimis
Tidak akan berlanjut,
Tidak akan mempengaruhi kejadian selanjutnya,
Terjadi karena faktor eksternal semata
Akan terus berlanjut,
Mempengaruhi kejadian selanjutnya,
Terjadi karena kesalahan diri sendiri
Sukses pasti membutuhkan sikap optimis. Latihlah agar Anda senantiasa bertindak seperti tabel orang optimis diatas. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan bersyukur, seperti Ozil pemain bola favorit pada foto diatas.
Ada pemikiran baru buat saya setelah membaca dimensi ke-3. Tipikal saya selama ini selalu merendah dan kurang memberikan penghargaan terhadap diri sendiri. Kerap kali bila mengalami sukses lewat kerjasama team selalu beranggapan ini semua terjadi karena kekompakan seluruh anggota. Kekompakan team Itu benar, tetapi jangan melupakan apresiasi terhadap diri sendiri. Sebaiknya, kita memanjakan diri sejenak dan bersyukur selalu kepada Yang Maha Kuasa. Dia telah mengalirkan energi dasyatnya untuk bekerja dan sukses bersama anggota team lainnya.
Ketiga dimensi tersebut tentunya harus kita padankan dengan kekuatan maha dasyat yang mengatur alam semesta agar kita tidak terjebak pada sifat pongah.
Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda berminat melakukan test? Anda bisa melakukannya secara online dengan memasukkan kata kunci Learned Optimism Test di Google bila berminat melakukannya.
Selamat mencoba. Kiranya Anda juga berkenan memberikan komentar dan men-share tulisan ini.